( Sambungan ) Siasat Perlawanan Ulama Bandung

Ulama di Jantung Kekuasaan Hindia Belanda: Sebuah Catatan Perlawanan Sunyi

III. Strategi "Buying Time" ( Sambungan)

Senjakala abad ke-19 mulai melabuhkan tirai kelabu-nya, datanglah seorang arsitek kebijakan kolonial yang amat masyhur, C. Snouck Hurgronje. Sepulangnya dari Perang Aceh, ia membawa sebuah misi "muslihat" yang amat halus namun mematikan. Sang orientalis yang bersembunyi di balik jubah kemunafikan dan ilmu pengetahuan menawarkan sebuah kesepakatan yang nampaknya manis di bibir: memisahkan urusan agama dari kancah politik. Dimulai dengan perubahan posisi Hoofd Penghulu dan Imam Masjid Agung Bandung, Snouck menginfiltrasi administrasi keagamaan di kalangan ulama Bandung dengan kebijakan pola orientalis Barat. Snouck Hurgronje mulai memisahkan antara kegiatan Ulama dan Umaro di setingkat pemerintahan Bupati Bandung, ia pun membiarkan umat Islam tenggelam dalam kekhusyukan ritual bersujud, berpuasa, dan berhaji dengan segala kemudahannya; namun dengan pedang di belakang yang siap terhunus, ia siap memenggal leher siapa pun yang berani menyuarakan perlawanan politik atau kekuasaan atas nama iman.

Di tengah badai muslihat itulah, didatangkanlah oleh Snouck Hurgronje seseorang yang bernama Raden Haji Hasan Mustafa, Penghulu Bandung (pengganti setelah K.H. Muhammad Alwi dan KH.Muhammad Natsir) yang jiwanya tenang di permukaan namun menyimpan arus yang kuat di kedalaman. Sejarah mencatat ia nampak begitu karib dengan kekuasaan; ia menerima gaji bulanan yang fantastis, setara dengan para elit Eropa, dan di dadanya tersemat bintang kehormatan Ridder Orde van Oranje-Nassau langsung dari tangan Ratu Belanda. Bagi mata yang hanya melihat kulit luar, ia nampak laksana pujangga yang telah terbeli oleh kemewahan gulden dan medali emas.

Namun, siapakah yang mampu membaca baris-baris sunyi pupuh-nya dalam lembaran nasib bangsa ini? Kiranya Hasan Mustafa bukanlah seorang yang silau oleh harta. Dengan mata batinnya, ia menyaksikan sendiri dan merasakan tragedi berdarah yang menimpa saudara se-iman nya di Aceh dan wilayah lain di Nusantara, di mana pemberontakan fisik yang tak terorganisir yang baik hanya akan berakhir menjadi genosida dari aksi militer kolonial  yang memilukan. Darah tumpah di ujung bedil penguasa, menyisakan duka yang tak berujung. Maka, ia memilih jalan yang amat sukar dipahami oleh sebagian besar kaum emosional , jalan pedang yang beliau harus pilih : ia bahkan memilih untuk "kooptijden" atau buying time.

Sebuah proses narasi yang panjang dan rumit bahkan mengorbankan martabat pribadinya demi keselamatan nyawa banyak orang. Sembari memegang stempel resmi dan menjaga ketenangan birokrasi di hadapan Belanda, ia merajut benteng pertahanan yang sudah dibina oleh para ulama pendahulunya, dari jenis yang tak bisa ditembus oleh peluru meriam dan bedil. Melalui ribuan bait dangding dan puisi-puisi tradisional Sunda, ia menanamkan kembali akar kebudayaan dan jati diri bangsa yang kian luluh lantak oleh infiltrasi dan agitasi Belanda. Ia tahu benar, selama jiwa bangsa masih memiliki benteng kebudayaan yang kokoh, maka penjajahan fisik hanyalah persoalan waktu sebelum ia menemui ajalnya, cepat atau lambat. R.H. Hasan Mustafa menyadari menjadi alat kolonial yang hanya menjadi bidak catur, merelakan dirinya dicibir sebagian orang demi menjaga sesuatu keyakinannya, yakni keberlangsungan hidup dan rohani umat agar tetap tegak berdiri dengan ketauhidannya hingga kelak menunggu waktu fajar kemerdekaan yang sesungguhnya tiba.

________________________________________

IV. Badai Revolusi dan Karomah di Garis Depan

Fajar Perlawanan yang Menguak Tabir Tatkala lembaran sejarah bersalin rupa dari kolonial menjadi nasionalis, lalu gema kemerdekaan mulai menggaung, dunia menyaksikan sebuah peralihan zaman yang dramatis. Kertas-kertas diplomasi yang sedianya diharapkan menjadi jembatan perdamaian seketika kehilangan kesaktiannya, hancur lumat di bawah deru mesin tank dan pekik pesawat tempur kolonial yang kembali datang menyebar maut pasca-1945.

Mesjid Baiturrahman, Padasuka,Cimahi.Dok.suarajabar.id

Di tengah keriuhan palagan perang dunia, "sel-sel tidur" dari rahim pesantren yang telah lama berhibernasi dalam kesunyian tiba-tiba terjaga dengan semangat yang membara. Jaringan batin yang telah ditenun dengan sabar selama setengah abad lebih oleh para sesepuh ulama, kini bertransformasi menjadi barisan pejuang yang kokoh; sebuah kekuatan rakyat yang terhimpun dalam laskar-laskar rakyat tangguh.

Ibarat "Karang" di Tengah Samudra Api 

Di front pertahanan Cimahi, sosok Kiai Haji Usman Dhomiri muncul sebagai personifikasi keberanian yang tak tergoyahkan. Beliau berdiri tegak layaknya karang purba yang menantang amuk gelombang di tengah samudra api yang sedang melalap bumi Bandung. Perlawanan ini bukan sekadar tentang adu mesiu, melainkan tentang keteguhan jiwa yang menolak untuk kembali dibelenggu oleh angkara murka penjajah.

Manifestasi Karomah: Masjid Baiturrohman Puncak dari drama spiritual ini terjadi manakala pesawat pembom Belanda meluncurkan serangan udara membabi buta ke jantung pertahanan rakyat. Sebuah bom jatuh tepat menghujam Masjid Baiturrohman, membawa ancaman kehancuran total. Namun, di sinilah sebuah anomali terjadi:

  • Ledakan yang Tertahan: Meski bom tersebut meledak dengan suara yang menggetarkan sukma, bangunan masjid tetap berdiri kokoh tanpa goyah sedikit pun, seolah dilindungi oleh tangan-tangan gaib.
  • Benturan Logika: Bagi kaum rasionalis Barat yang memuja materi, peristiwa tersebut mungkin dianggap sekadar kegagalan mekanis atau "cacat teknis" pada hulu ledak.
  • Suntikan Keberanian: Namun bagi rakyat yang sedang berjuang, peristiwa itu adalah karomah sebuah tanda nyata dari Yang Maha Kuasa yang seketika menghapus trauma kolektif terhadap kecanggihan teknologi modern penjajah.

"Keajaiban di Masjid Baiturrohman bukan sekadar peristiwa fisik, melainkan sebuah aliterasi baru yang menyinari sanubari rakyat untuk terus maju pantang mundur."

Kejadian ini menjadi katalis spiritual yang membangkitkan harga diri bangsa, membuktikan bahwa kekuatan baja takkan pernah mampu memadamkan api iman yang telah menyatu dengan cinta tanah air.

________________________________________

V. Estafet Siasat dari Masa ke Masa

Pantulan Cermin di Ufuk Merdeka Jejak langkah para ulama Bandung ini bukan sekadar catatan usang yang berdebu di lemari sejarah, melainkan sebuah cermin jernih bagi kita untuk memandang wajah bangsa hari ini. Tatkala Sang Saka mulai berkibar di langit yang bebas, sebuah kenyataan benderang tersingkap: wibawa moral para ulama berdiri jauh lebih kokoh dibandingkan kaum birokrat formal.

Para birokrat lama itu seolah kehilangan marwah dan legitimasi di mata rakyat sebab mereka telah terlalu lama menjadi ornamen kecil dalam mesin kolonial yang dingin dan tak berperasaan. Sementara itu, kaum ulama tetap menjadi suluh yang menerangi kegelapan batin masyarakat, membuktikan bahwa otoritas yang berakar pada rohani akan selalu menang melawan otoritas yang sekadar bersandar pada kertas dan stempel.


Catur Politik di Gelanggang Baru 

Memasuki era Orde Baru hingga fajar Reformasi menyingsing, pola "bermain di dalam sistem" yang dipelopori para Hoofd Penghulu dahulu ternyata tidaklah luntur, melainkan adaptasi dan tetap lestari dalam bentuk yang berbeda. Sebagaimana pendahulu mereka yang duduk tegak di kursi birokrasi Belanda demi melindungi umat, banyak tokoh agama dan penjaga budaya saat ini yang memilih untuk menempati kursi pemerintahan maupun dewan penasihat atau bahkan lebih konsentrasi pada umat.

Dunia mungkin berubah, namun strategi "Catur Rohani" ini tetap berlanjut melalui:

  • Kehadiran Struktural: Mengambil peran dalam pengambilan kebijakan sebagai bentuk tanggung jawab sosial.
  • Diplomasi Sunyi: Menggunakan pengaruh untuk menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan kemaslahatan rakyat.

   
Renungan di Ambang Zaman: Ketundukan atau Strategi? 

Kini, kita berdiri di ambang pintu masa depan yang penuh teka-teki. Kita ditantang untuk merenung dengan jernih: apakah keterlibatan para tokoh agama dalam arus kekuasaan hari ini adalah sebuah bentuk ketundukan pada rayuan duniawi, ataukah sesungguhnya "benteng bawah tanah" yang dibangun oleh para leluhurnya yang menjaga warisan intelektual masih beroperasi secara rahasia di balik wajah-wajah modern?
"Mungkin saja, di balik jubah birokrasi yang rapi, mereka masih menyimpan dan tetap menjalankan siasat yang sama: menjaga keberlangsungan hidup dan mempertahankan jati diri bangsa agar tidak lumat ditelan zaman yang kian menderu."
Estafet siasat ini mengajarkan kita bahwa perjuangan tidak selamanya berupa pekik kemarahan di jalanan, melainkan bisa berupa ketenangan seorang pemain catur yang menanti saat yang tepat untuk menjaga benteng rohaninya tetap tegak berdiri.


Jejak langkah para ulama Bandung ini memberikan cermin bagi kita untuk memandang sejarah bangsa:
  • Pasca-Kemerdekaan: Masa ini membuktikan bahwa wibawa moral ulama jauh lebih kokoh dibandingkan kaum birokrat formal regensi yang kehilangan legitimasi karena terlalu lama menjadi sekrup mesin kolonial.
  • Era Orde Baru hingga Reformasi: Pola "bermain di dalam sistem" tetap lestari. Sebagaimana para Hoofd Penghulu dahulu, banyak tokoh agama dan kultural kini duduk dalam kursi pemerintahan atau dewan penasihat.
  • Refleksi Hari Ini: Kita ditantang untuk melihat dan merenung apakah keterlibatan mereka hari ini adalah bentuk ketundukan pada arus kekuasaan, ataukah "benteng bawah tanah" itu sesungguhnya masih beroperasi dengan wajah yang lebih modern demi menjaga keberlangsungan hidup umat , atau bahkan lebih buruk dari zaman Snouck Hurgronje.
Pada akhirnya, sejarah lini masa akan mencatat tentang evolusi ini dan saat kelak anak zaman akan menyaksikan sejauh mana peran yang diambil dalam perubahan evolusi akan berdampak secara terintegrasi dalam semua aspek. Apakah akan tetap terwarisi oleh para ulama berikutnya tentang pemahaman "Weruh Sadurung Winara".
 
Wallahu a’lam bishshawab.
          
(kangbAgusaja)



________________________________________





Narasi Daftar Kajian Pustaka
  1. Arsip Resmi Pemerintah Kolonial Belanda: Regerings Almanach (Buku Pintar Belanda), mencatat daftar pegawai dan aset birokrasi.
  2. Kajian Sejarah Sosioekonomi: Sobana Harjasaputra, A. Transformasi Priangan: Dari Agraris ke Ekstraksi Ekonomi.
  3. Biografi Sejarah: Rahman, Ari Anjar (2018). Biografi Sejarah dan Pemikiran K.H. Muhammad Kurdi (Mama Cibabat-Cimahi) 1839-1954. Skripsi Sarjana. Bandung: UIN Sunan Gunung Djati.
  4. Karya Sastra Kultural:  
    1. Kiai Haji Muhammad Kurdi (Mama Cibabat), Kitab Cuncuing dan Tongeret (Sastra Tasawuf sebagai Pertahanan Psikologis).
    2. Raden Haji Hasan Mustafa, Kumpulan Dangding dan Puisi Tradisional Sunda.
  5. Dokumentasi Perjuangan Fisik: Catatan pergerakan Laskar Hizbullah dan Sabilillah serta biografi Kiai Haji Usman Dhomiri.
  6. Catatan Sejarah Lokal: Peristiwa Pengeboman Masjid Baiturrohmah, Cimahi, dan peristiwa Bandung Lautan Api 1946.
  7. Dokumen Geopolitik: Civil Affairs Agreement (1945), mengenai upaya pengembalian status quo kolonial pasca-Perang Dunia II.
  8. Orientalisme: Van Koningsveld, P. Sj. (1989). Snouck Hurgronje dan Islam: Delapan Karangan tentang Hidup dan Karya Seorang Orientalis Zaman Kolonial. Jakarta: Penerbit Girimukti Pasaka.
  9. Politik Islam: Suminto, H. Aqib (1985). Politik Islam Hindia Belanda: Het Kantoor voor Inlandsche Zaken. Jakarta: LP3ES.
  10. Sejarah Pesantren: Kusdiana, Ading (2014). Sejarah Pesantren: Jejak, Penyebaran dan Jaringannya di Wilayah Priangan (1800-1945). Bandung: Penerbit Humaniora.
  11. Karya Snouck Hurgronje: Hurgronje, C. Snouck (1931). Mekka in the Latter Part of the 19th Century. Edisi Terjemahan (2007). Leiden: E.J. Brill.
  12. Photo Mesjid Baiturrahman Cimahi, suarajabar.id
  13. Photo koleksi pribadi.




Komentar

Postingan Populer