Sebuah Perlawanan Pasif Melawan Pemerintah Kolonial

Sorban Dari Seberang Pendopo

Sebuah Narasi Kisah Hidup KH. Mohammad Rais ( Buya Sukapakir )

Bagian I : Embun di Timbanganten (Masa Kecil)

Di ufuk timur Tatar Garut, ketika fajar menyingsing di balik kemegahan Gunung Guntur, kabut tebal masih memeluk lembah Timbanganten. Di sebuah serambi beralaskan lampit rotan yang mulai menghitam oleh usia, seorang anak bernama Mohammad Rais duduk bersimpuh dengan takzim. Di hadapannya, Rd. Haji Noerhasan—kakeknya yang menjabat sebagai Penghulu Timbanganten, Afdeling Garut, Kalipah Tarogong—sedang membuka lembaran naskah kuno yang aromanya berbaur dengan wangi kemenyan tipis dan tanah basah sisa hujan semalam.

Timbanganten bagi keluarga mereka bukan sekadar tanah kelahiran; ia adalah pusat kekuasaan leluhur Kerajaan Timbanganten. Rais kecil sering mendengar sang kakek bercerita bagaimana trah mereka bermigrasi dari jantung Garut menuju Dayeuhkolot untuk mendirikan fundamen pemerintahan di Bandung. Namun, di mata Noerhasan, kekuasaan administratif hanyalah kulit luar.

"Rais, cucuku," bisik Noerhasan dengan suara bariton yang bergetar namun teduh, "darah yang mengalir di nadimu adalah darah Raja Timbanganten, keturunan Ratoe Wiranatakoesoemah (Raja Timbanganten terakhir) . Kau adalah Menak. Namun, lihatlah di sekelilingmu. Jabatan kakek sebagai Penghulu di bawah besluit kompeni ini hanyalah amanat lahiriah, sebuah 'pinjaman kolonial' yang bisa ditarik kapan saja oleh para birokrat kolonial di Batavia."

Tangan Noerhasan yang keriput namun kokoh menunjuk pada deretan Kitab-Kitab yang tersusun rapi—kitab-kitab Fiqh Syafi'i dan Tawhid Asy'ariyah. "Jika kau merindukan kemuliaan yang takkan lapuk oleh rotasi jabatan bupati, carilah ia di dalam rahasia huruf-huruf Al-Qur'an. Karena hanya ilmu yang bersambung sanad-nya hingga ke Rasulullah yang akan menjagamu dari kehinaan dunia."

Rais kecil tumbuh dalam ritme kehidupan yang terbelah namun harmonis. Di bawah pengawasan ayahnya, Rd. Kiai Arbi. Rais kecil menyaksikan bagaimana rumah mereka menjadi simpul pertemuan dua dunia. Pada siang hari, serambi depan rumah dipenuhi oleh para ambtenaren dan birokrat dari Kabupaten Bandung yang datang membawa urusan administrasi kemasjidan dan hukum adat bertemu ke Kakeknya dan dibantu Ayahnya melayani para tamu, dengan jas tutup dan bendo yang rapi, mereka melayani tamu-tamunya dengan diplomasi aristokrat yang luwes.

Namun, ketika matahari waktu bergeser ke arah senja, suasana berubah total. Rais melihat ayah dan kakeknya menanggalkan atribut kebangsawanannya. Di dalam mihrab kecil, Rais kecil menyaksikan Rd. Kiai Arbi luluh dalam sujud yang panjang, hanya mengenakan sarung dan sorban putih, menjelma menjadi seorang hamba Allah yang paling fakir. Inilah momen di mana identitas menak melebur ke dalam jiwa Santri—sebuah sintesis kepemimpinan yang kelak akan Rais kecil bawa ke pusat kota Bandung melalui mimbar Masjid Agung dan pesantren di wilayah Sukapakir.

Di sela-sela waktu, ayahnya mulai mengajarkan dasar-dasar bahasa Arab dan aksara Pegon—sebuah cara menuliskan bahasa Sunda dengan karakter Hijaiyah. Bagi keluarga Arbi, literasi ini bukan sekadar alat baca-tulis, melainkan 'benteng budaya' tersembunyi yang tak mampu ditembus oleh pengawasan intelijen kolonial.

Embun di Timbanganten pagi itu seolah memberikan restu pada benih-benih keulamaan yang mulai bersemi di hati Rais, mempersiapkannya menjadi Imam besar Mesjid Agung yang akan menyeimbangkan otoritas hukum dan kemurnian spiritualitas di Tatar Sunda.


Bagian II: Menjemput Sanad di Jantung Dunia

Lini masa berayun mengikuti deburan ombak di pelabuhan—mungkin Cirebon, tempat kapal-kapal dagang bersandar membawa janji akan dunia yang luas. Rais muda berdiri di anjungan, menatap cakrawala yang tak bertepi. Kapal uap masa itu belumlah semegah mimpi-mimpi modernitas kelak, ia hanyalah kapal pengangkut barang di mana raga manusia sering kali terabaikan di sela-sela tumpukan komoditas. Namun, di dalam dada seorang Rais Muda , ada mesin yang lebih kuat dari uap mana pun: sebuah mesin hati yaitu tekad untuk menyeberangi Samudera Hindia demi menjemput mata air kebenaran.

Tujuh bulan lamanya ia terombang-ambing, melintasi Singapura yang riuh, Pulau Pinang yang hijau, hingga Selong (Ceylon) yang misterius. Miskinnya fasilitas di kapal dagang tidak menyurutkan langkahnya; baginya, setiap gulungan ombak adalah riyadhah (latihan batin) untuk melunakkan egonya sebagai seorang menak sebelum ia bersimpuh dikedalaman ilmu-Nya. Setibanya di tanah suci, di bawah naungan bayang-bayang Jabal Abi Qubais yang agung, Rais Muda menemukan "Matahari Timur"-nya: Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantani Al-Jawi. Syekh Nawawi, sang Sayyid Ulama Al-Hijaz, bukanlah sekadar pengajar; beliau adalah arsitek intelektual yang sedang membangun fondasi kebangkitan ulama Nusantara di tanah Haram.

Dalam halaqah yang khidmat di serambi Masjidil Haram, Rais Muda tidak sekadar menghafal matan-matan kuno. Di bawah bimbingan Syekh Nawawi, ia belajar bahwa ilmu agama adalah alat pembebasan. Ia menyerap Fiqh Syafi’i bukan sebagai hukum yang kaku, melainkan sebagai "perahu" untuk mengarungi samudera kehidupan. Ia mendalami Tasawuf Ghazali bukan untuk lari dari dunia, melainkan untuk menemukan "intan hakikat" yang tersembunyi di kedalaman rasa. Sebagai seorang keturununan aristokrat Sunda yang sadar akan tanggung jawab sejarahnya, Rais muda mengasah ketajaman rasionya. Ia mulai beralih dari metode hafalan fragmentaris menuju pemahaman mendalam atas bahasa Arab sebagai kunci utama literasi Islam global. Di sinilah jati diri "Menak-Santri"-nya mengkristal dan menyatu; ia memahami bahwa darah biru yang mengalir di tubuhnya adalah amanah untuk menjadi pelindung ruhani bagi bangsanya yang sedang terhimpit kolonialisme.

Di sela-sela studi, Rais muda menjalin ikatan persaudaraan yang erat dengan komunitas Jawi—pemuda-pemuda hebat dari seluruh pelosok Nusantara. Ia duduk melingkar bersama calon-calon pemimpin agama yang kelak akan memegang tongkat kepenghuluan dan imamah di Priangan dan Nusantara. Jaringan intelektual ini bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan konsolidasi elite agama yang akan memastikan bahwa identitas Islam di Tatar Sunda tetap murni dan bersambung Isnad-nya.

Ketika fajar terakhir di Makkah menyapa sebelum kepulangannya, kini menjelma menjadi Mphammad Rais tidak hanya akan membawa gelar Haji sebagai status sosial. Ia pulang membawa "Isnad"—sebuah "Mata Rantai Cahaya" intelektual dan spiritual yang tak terputus, yang menyambungkan Sukapakir dan Bandung langsung ke rumah Rasulullah SAW. Isnad itulah yang kelak menjadi benteng yang tak kasat mata bagi masyarakatnya, sebuah warisan keilmuan internasional yang dibungkus dengan kearifan lokal Sunda yang halus.


Bagian III: Menara dan Mimbar

Bandung di penghujung abad ke-19 adalah sebuah panggung yang sedang bersolek dengan gairah kemoderenan Barat. Di sepanjang jalan-jalan yang mulai diperkeras, gedung-gedung neoklasik berdiri angkuh, memancarkan aroma Eropa di tengah tanah Priangan, seolah menjadi genderang bahwa zaman lama telah runtuh, digantikan oleh deru mesin dan administrasi kolonial yang dingin. Namun, di tengah cahaya lampu-lampu jalanan yang mulai berpijar, KH. Mohamad Rais berdiri tegak sebagai karang spiritual yang tak tergoyahkan.

Saat itu KH.Mohammad Rais telah menikahi seorang gadis yang bernama Nyi Rd.Dompo binti Rd Haji Djaelani I putri dari seorang keturunan aristokrat Soekapoera, KH.Rd. Djaelani I seorang Hoofd Penghulu Bandung. Dari pernikahan ini mempunyai seorang putra yaitu Rd.H.. Mohammad Arbi diberi nama seperti nama kakeknya , Kiai Arbi. KH.Mohammad Rais juga menikahi Nyi Rd M. Ema dari pernikahannya mempunyai putri yaitu Nyi Raden Djehana yang kelak akan dipersunting oleh KH.Raden Muhammad Alwi , yang mewarisi sanad keilmuan sama dan kelak dikenal Mama Eyang Sukapakir. 

Di mihrab Masjid Agung Bandung, yang berdiri anggun menatap Alun-alun dan Pendopo Kabupaten, Rais menjalankan tugasnya sebagai Imam Bandung. Posisi ini bukan sekadar pemimpin shalat, melainkan penjaga gawang ruhani bagi ribuan jiwa yang mulai gamang didera arus zaman kolonial. Beliau memahami bahwa ruang publik tersebut adalah manifestasi dari "Dualitas Kepemimpinan Sunda": Bupati di Pendopo sebagai pemegang kuasa duniawi, dan Imam di Masjid sebagai pelita otoritas ukhrawi.

Kiprah sosiopolitik Mohammad Rais menjadi kian krusial berkat sinergi tak terpisahkan dengan putra kandungnya, R. Hie Moh. Arbi ( Rd.Haji Mohammad Arbi \  Abah Kaoem). Jika KH.Mohammad Rais adalah sauh spiritual di dalam masjid, maka Moh. Arbi adalah nakhoda hukum yang memimpin Kepenghuluan Bandung. Mereka membagi beban sejarah dengan rapi: KH. Mohamad Rais mengelola kesucian ibadah dan bimbingan umat, sementara KH.Mohammad Arbi mengawal administrasi yudisial, pernikahan, dan waris di bawah naungan sistem birokrasi agama yang kian profesional. Bersama-sama, mereka menyeimbangkan tegangan antara Syariat yang kaku dan Adat yang luwes, memastikan bahwa jati diri orang Sunda tidak tercerabut dari akarnya.

Namun, langit Bandung saat itu tidaklah secerah kelihatannya. Di balik bayang-bayang pepohonan rindang di pusat kota, mata-mata kolonial dari Kantoor voor Inlandsche Zaken senantiasa mengintai. KH. Mohammad Rais sadar betul bahwa sosok-sosok seperti Christiaan Snouck Hurgronje, sang arsitek politik Islam Belanda, terus memantau setiap gerak langkah para ulama, terutama mereka yang membawa Isnad dari Makkah. Snouck ingin "menetralisir" kekuatan Islam agar hanya tersisa sebagai ritual tanpa daya politik, hingga puncaknya pada masa kepemimpinan PHH.Mustopa, Snouck Hurgronje mengambil alih kebijakan peran Ulama dan bahkan putra KH.Mohammad Rais sendiri yaitu KH. Muhammad Arbi tersingkir ke daerah Ujungberung dan menjadi Imam Masjid Ujungberung.

Menghadapi tekanan halus Snouck Hurgronje yang mematikan itu, KH. Mohamad Rais tidak memilih jalan pedang yang berdarah, seperti yang terjadi di belahan timur Priangan yang mencatat banyak pemberontakan berbasis pesantren , namun beliau memilih untuk membangun strategi sebuah "Benteng Literasi". Beliau " Nyumput Buni Dina Caang - bersembunyi di tempat musuh " yaitu dengan merintis wilayah Sukapakir menjadi sebuah kantong kesalehan intelektual di tengah riuh rendah jantung perkotaan , sebagai pusat transmisi ilmu. Di pesantren urban inilah KH. .Mohammad Rais atau kini dikenal Buya Sukapakir mengajarkan kitab-kitab  karya Syekh Nawawi al-Bantani melalui media Aksara Pegon.

Aksara Pegon , bahasa Sunda yang dibalut dalam karakter Hijaiyah adalah aksi kebudayaan yang luar biasa tajam. Ia adalah "bahasa rahasia" yang menjaga agar sanubari rakyat tidak menjadi asing terhadap identitas Islamnya di saat sekolah-sekolah Barat mulai memuja huruf-huruf Latin. Di Sukapakir, Rais memahat karakter murid-muridnya, termasuk pemuda berbakat seperti Daeng Kanduruan Ardiwinata yang kelak membawa ruh didaktik Sukapakir ke dalam dunia pendidikan dan sastra modern Sunda. Melalui goresan kalam dan suara di atas mimbar, KH. Mohamad Rais dan putranya memastikan bahwa meskipun raga orang Sunda tunduk pada hukum kolonial, jiwa mereka tetap merdeka di bawah panji Isnad Keilmuan.

                       (kangbAgusaja)

 

  ( bersambung  Bagian IV : Poros Sukapakir dan 
Benih-Benih Perlawanan Pasif  terhadap kolonial)


Komentar

Postingan Populer