Sorban Dari Seberang Pendopo ( Sambungan )
( Sambungan ) Bagian IV : Poros Sukapakir dan
Benih-Benih Perlawanan Pasif Terhadap Kolonial
Mentari luruh di cakrawala Sukapakir, menyisipkan rona keemasan di antara celah-celah dinding kayu Pesantren Sukapakir. Di sebuah serambi yang teduh, KH. Mohamad Rais (Buya Sukapakir ) pensiunan Imam Bandung yang karismatik sedang menyimak hafalan Al-quran dari seorang remaja berwajah cerdas dengan sorot mata yang melampaui usianya. Remaja itu adalah Daeng Kanduruan Ardiwinata kelahiran Bandung tahun 1866, seorang putra Sunda dari jalur ibu dan keturunan raja-raja Bone dari jalur ayah yang kini tengah menempa jiwa dalam dekapan budaya Sunda yang halus.
Tahun itu, 1877, Sukapakir bukan sekadar tempat mengaji; ia adalah kawah candradimuka bagi akal dan budi. KH.Mohammad Rais bersama menantunya KH. Muhammad Alwi atau yang dikenal Hasan Alwi, dengan kearifan para gurunya yang telah meneguk ilmu langsung dari cawan Syekh Nawawi Al-Bantani di Makkah, melihat getaran intelektual yang tak biasa pada diri Ardiwinata muda. Beliau tidak hanya mengajarkan kerumitan Nahwu dan Sharaf, melainkan menanamkan benih-benih Drigama—etika kehidupan yang menyatu dengan hukum Tuhan.
Dalam heningnya malam di Sukapakir, KH. Mohammad Rais sering berbisik pada murid-muridnya, "Ilmu tanpa akhlak laksana lampu tanpa minyak, ia akan padam saat ditiup angin zaman." Inilah ruh" moral yang kelak, di lini masa waktu kemudian, akan Ardiwinata tumpahkan ke dalam tinta keabadian novel Baruang ka nu Ngarora. “pesantren-lah” sang arsitek batin yang memastikan bahwa ketika sastra Sunda bersentuhan dengan arus modernitas Barat, ia tidak kehilangan kemudi iman dan kehormatan budinya. Kelak guru dan murid bekerjasama membuat sebuah pedoman yang di kenal “ Palanggeran Nuliskeun Basa Sunda ku Aksara Walanda 'Pedoman Menuliskan Bahasa Sunda dengan Aksara Latin' (1912) yang disusunnya bersama KH. Rd. Mohammad Rais, M. Partadiredja, M. Amongpradja. H.S.H. de Bie, dan C.M. Pleyte, merupakan peraturan ejaan bahasa Sunda pertama yang resmi dipakai di sekolah dan guru-guru , kalangan pemerintah, dan masyarakat umum . Kelak semangat ini dibawa DK.Ardiwinata menjadi peletak dasar-dasar sebuah entitas Paguyuban Pasundan (1913) dan Perkoempoelan Wargi Bandoeng yang didirikan bersama-sama Dalem Wiranatakusumah V tahun 1926 .
Namun, KH. Mohammad Rais atau yang dikenal Buya Sukapakir sadar bahwa panggung sejarah selalu memerlukan estafet kepemimpinan yang lebih luas. Otoritas spiritual Sukapakir harus tetap bersinar dalam garis Isnad yang suci. Maka, dipilihlah seorang pemuda yang membawa kemuliaan garis keturunan Sayyid : KH. Raden Muhammad Alwi (Mama Eyang Sukapakir). Muhammad Alwi bukanlah orang biasa; ia adalah putra seorang Sayyid yang menyatukan darah Sayyid dengan trah ulama sesepuh Bandung. Nasabnya KH. Muhammad Alwi menyambung kepada Eyang Dalem Haji Abdul Manaf ( pendiri Kampung Mahmud ) dari jalur ibu. Eyang Dalem Mahmud sendiri adalah keturunan ke-10 dari Syarif Hidayatullah ( Sunan Gunung Jati) melalui jalur Dalem Nayadirga.
Melalui pernikahan dengan putri sulung KH. Mohammad Rais, Nyai Raden Djehanah (Intjim Entjock , buku silsilah.red ), KH. Mohamad Rais melakukan sebuah "sintesis nasab". Di bawah atap Sukapakir, melebur lah tiga cahaya: martabat menak Sunda , ketauladanan dan kedalaman ilmu ( Rois ’Ilmi ), dan kemuliaan keturunan Nabi (Sayyid). KH.Muhammad Alwi, yang juga menyerap sanad dari Syekh Nawawi Bantani, kemudian meneruskan estafet keilmuan dan menjadi Mursyid Tarekat yang mengokohkan Sukapakir sebagai pusat suluk di kota Bandung.
Jejak langkah ini tidak berhenti di seputaran Pagarsih . Cahaya Sukapakir mulai memancar keluar, menjangkau wilayah-wilayah penyangga. Murid-murid terbaik mulai bermunculan, membawa api perjuangan yang sama. Di Cimahi, Mama Kurdi (Mama Cibabat) yang gagah berani mulai merintis benteng iman di tengah kepungan militer kolonial. Sementara itu, di wilayah Bojongloa, Mama Haji Sayuti (Appa Bojong) mengibarkan panji Isnad yang ia peroleh dari bimbingan Muhammad Alwi.
Bersama Mama Zarkasyi (Cibaduyut), mereka dikenal sebagai ulama penjaga kota Bandung. Mereka adalah mata rantai yang tak terputus dari sukapakir ; sebuah jaringan intelektual dan spiritual yang memastikan bahwa identitas rakyat Sunda tetap tegak, berdaulat dalam agama, dan mulia dalam budaya, bahkan ketika bayang-bayang penjajahan mencoba menutup fajar kemerdekaan.
Bagian V: Senja di Pagarsih (Penutup)
Lembayung senja mulai merayap di langit Bandung, menyapukan warna emas yang kian meredup di atas atap-atap rumah wilayah Pagarsih. Di sebuah sudut sunyi di tengah keriuhan distrik Astanaanyar, waktu seolah melambat dan membeku. Di sinilah, di bawah naungan keteduhan batin yang abadi, KH. Mohamad Rais “ Boeja Sukapakir “ menutup lembaran panjang pengabdiannya. Beliau berpulang di usia yang cukup senja , di tahun 1919 dengan meninggalkan sebuah wasiat yang tak kasat mata namun bergetar hebat: sebuah identitas baru bagi Bandung, kota yang kini tak hanya molek oleh arsitektur Eropa, namun juga kokoh oleh benteng-benteng ruhani yang tak mampu ditembus oleh karat zaman.
Jasadnya kini beristirahat dengan tenang di bumi Sukapakir, sebuah tempat yang dalam ingatan kolektif masyarakat Tatar Sunda , khususnya di para Ajengan dan Santri se-Bandung raya , telah menjelma menjadi oase ziarah spiritual di tengah hiruk-pikuk metropolitan yang kian bising dan gersang. Ribuan peziarah datang bukan sekadar untuk mendoakan, melainkan untuk meneguk kembali sisa-sisa keberkahan (barakah) dari sosok yang dahulu menjadi sauh bagi jiwa-jiwa yang terombang-ambing di muara modernitas kolonial .
Refleksi akhir ini menegaskan hakikat: bahwa KH. Mohamad Rais bukanlah seorang Imam yang berdiri di mihrab Masjid Agung saja. Beliau adalah jembatan yang menghubungkan tanah Timbanganten yang penuh wibawa leluhur dengan tanah suci Makkah yang memancarkan cahaya ilmu internasional. Beliau adalah penyambung antara dinginnya sekat-sekat birokrasi kepenghuluan Bandung dengan hangatnya semangat literasi Pegon di gubuk-gubuk pesantren kecil lainnya. Kelak Kota Bandung menjadi benteng perlawanan pasif terhadap pemerintahan kolonial, perjuangan sukapakir tercatat sebagai bagian sejarah narasi dan literasi, baik dalam budaya lisan keluarga , manaqib pesantren serta catatan kecil para akademisi dan sejarawan.
Dalam dirinya, dualitas kepemimpinan Sunda mencapai puncak estetikanya. Beliau memiliki "modal simbolik" berupa keturunan Timbanganten dan Dayeuhkolot, namun beliau memilih untuk menanggalkan identitas kebangsawanan itu dari kepalanya dan menggantinya dengan ketawadhuan seorang penerus ajaran Syekh Nawawi Al-Bantani, beliau meletakkan kehormatan leluhurnya itu tepat di bawah sorban ilmu—sebuah sorban yang ditenun dari benang-benang ijazah dan Isnad keilmuan yang murni bersambung hingga ke Rasulullah SAW.
Meski raga beliau telah menyatu dengan tanah, mata rantai cahaya itu tidak pernah terputus. Cahaya Sukapakir tetap berpendar melalui menantunya, KH. Rd. Muhammad Alwi (1851 - 1928 ) yang lebih dikenal dengan Mama Eyang Sukapakir, dan murid-muridnya kini menjadi pelita di Bojongloa hingga Cimahi. Perjalanan hidup Mohamad Rais adalah bukti bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada tingginya kursi jabatan di Pendopo, melainkan pada tegaknya integritas di atas mimbar dan ketulusan dalam mengajar. Di Sukapakir, sejarah mencatat: mahkota itu memang tak lagi tampak di kepala, namun cahayanya tetap bersinar terang melalui setiap aksara Pegon yang dibaca, menjaga marwah Islam dan Sunda tetap abadi melampaui lini masa sejarah Kota Bandung. (kangbAgusaja)
Daftar Kajian Pustaka
Berikut adalah daftar pustaka yang disusun secara mendalam, sistematis, dan detil untuk mendukung seluruh penulisan narasi sejarah KH. Mohamad Rais ( Mama Sukapakir I \ Boeya Sukapakir). Referensi ini mencakup sumber primer silsilah, biografi intelektual, hingga kajian sosiologi-budaya yang menjadi pondasi penulisan naskah ini, baik beupa budaya tutur keluarga maupun Literasi yang behasil dikumpulkan.
I. Sumber Primer Silsilah dan Genealogi (pondasi )
Daftar ini merupakan rujukan otentik untuk memastikan akurasi alur keturunan dan hubungan kekeluargaan Menak-Santri dalam novel:
Keluarga Widjajaatmadja. (t.th.). Arsip Silsilah Primer Keturunan Bupati Timbanganten dan Dayeuhkolot. Bandung: Dokumen Koleksi Pribadi Keluarga Mulkan.
Arsip Silsilah Keluarga (Stamboom) Raden Mulkan Widjajaatmadja. Catatan otentik mengenai pohon silsilah keturunan Mama Eyang Sukapakir yang menghubungkan trah bangsawan Sunda dengan jalur ulama.
Dokumen "Verklaring" (1931). Surat pernyataan resmi mengenai garis keturunan dari Komisi Sejarah Kabupaten Bandung.
Panitia Silsilah Yayasan Wijayaatmaja. (2026). Buku Sejarah Silsilah Progo12: Dokumentasi Elite Birokrasi Keagamaan Bandung. Bandung: Laporan Penelitian Mandiri pan.ad.Hoc Yayasan Wijayaatmaja .
Wawancara Narasi tutur dari RM.Soemitro ( 2022-2023 ) tentang perjalanan telusur nasab dan sanad keluarga Rd.Mulkan Widjajaatmadja tahun 1960 hingga awal 1970n di tatar Priangan .
II. Kajian Intelektual dan Sanad Keilmuan (Pondasi)
Rujukan ini mendukung narasi mengenai pengembaraan KH. Mohamad Rais ke Makkah dan hubungannya dengan Syekh Nawawi al-Bantani:
Rohmana, Jajang A. (2021). "The Hagiography of the Priangan Ulama: A Comprehensive Analysis of KH. Muhammad Rais and the Legacy of Pesantren Sukapakir (1880–1920)". Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage, Vol. 10, No. 2. Jakarta: Balitbang Kementerian Agama RI.
Rahman, Ari Anjar. (2018). Biografi sejarah dan pemikiran K.H. Muhammad Kurdi (Mama Cibabat-Cimahi) 1839-1954. Skripsi Sarjana. Bandung: UIN Sunan Gunung Djati.
Ulum, Amirul. (2019). Syekh Nawawi al-Bantani: Penghulu Ulama di Negeri Hijaz. Yogyakarta: CV Global Press.
Amin, Samsul Munir. (2009). Sayyid Ulama Hijaz: Biografi Syaikh Nawawi al-Bantani. Yogyakarta: Pustaka Pesantren.
Van Bruinessen, Martin. (1999). Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat: Tradisi-tradisi Islam di Indonesia. Bandung: Penerbit Mizan.
III. Kajian Sosiologi, Budaya, dan Sastra (Pondasi Kiprah Sosial)
Referensi ini mendukung detail naratif mengenai hubungan dengan D.K. Ardiwinata dan strategi literasi melalui aksara Pegon:
Ardiwinata, Daeng Kanduruan. (1914). Baruang ka nu Ngarora. Cetakan Pertama. Jakarta: Balai Pustaka.
Kartini, Tini. (1979). Daeng Kanduruan Ardiwinata: Sastrawan Sunda. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Cantini, Cucum. (2018). "Habitus dan Modal Daeng Kanduruan Ardiwinata di Arena Kesusastraan Sunda Modern". Sawerigading: Jurnal Bahasa dan Sastra, Vol. 24, No. 2. Yogyakarta: Balai Bahasa DIY.
Lubis, Nina Herlina. (1998). Kehidupan Kaum Menak Priangan 1800-1942. Bandung: Pusat Informasi Kebudayaan Sunda.
Ekadjati, Edi S. (2004). Kebangkitan Kembali Orang Sunda: Kasus Paguyuban Pasundan 1913-1918. Bandung: PT Kiblat Buku Utama.
IV. Kajian Politik Kolonial dan Perlawanan (Pondasi Krisis Zaman)
Referensi ini mendukung narasi mengenai pengawasan birokrasi kolonial dan posisi elite agama (Penghulu):
Van Koningsveld, P. Sj. (1989). Snouck Hurgronje dan Islam: Delapan Karangan tentang Hidup dan Karya Seorang Orientalis Zaman Kolonial. Jakarta: Penerbit Girimukti Pasaka.
Suminto, H. Aqib. (1985). Politik Islam Hindia Belanda: Het Kantoor voor Inlandsche Zaken. Jakarta: LP3ES.
Kusdiana, Ading. (2014). Sejarah Pesantren: Jejak, Penyebaran dan Jaringannya di Wilayah Priangan (1800-1945). Bandung: Penerbit Humaniora.
Hurgronje, C. Snouck. (1931). Mekka in the Latter Part of the 19th Century. Edisi Terjemahan (2007). Leiden: E.J. Brill.
V. Rekaman Tradisi Lisan dan Dokumentasi Haul (Pondasi Warisan)
Asy-Syifaa TV Official. (2024). 🔴LIVE | ACARA PUNCAK HAUL AKBAR RD. MUHAMMAD ALWY R.A (MAMA EYANG SUKAPAKIR). YouTube Media.
Darussurur Media. (2024). LIVE HAUL AKBAR KH. R. MUHAMMAD KURDI (MAMA EYANG CIBABAT) | AL-MAQOM CIBABAT. YouTube Media.
Catatan penulis : Daftar kajian pustaka ini mengintegrasikan modal budaya (sanad keilmuan Makkah) dengan modal simbolik (nasab) yang menjadi tema sentral narasi budaya tutur. Setiap bagian narasi, mulai dari masa kecil di Timbanganten hingga kiprah di Masjid Agung Bandung, didukung oleh data bibliografis yang menunjukkan bahwa KH. Mohamad Rais bukan sekadar tokoh agama, melainkan arsitek identitas sosial-religius masyarakat Bandung modern yang pengaruhnya meluas hingga ke jaringan pesantren Cibabat dan Bojongloa.

Komentar
Posting Komentar