Siasat Perlawanan Ulama Bandung

Siasat "Catur" Para Ulama: Bagaimana Meja Birokrasi Kolonial Menjadi Benteng Perlawanan Sunyi.

Alamatul-hayat

"Ari jadi manusa teh kudu waspada, bisa nempo sasmita, malah mandar bisa weruh sadurung winara. Hartina, kudu tapis maca kaayaan méméh kajadian datang, ulah nepi kaduhung paneuri." ( Piwuruk Pituin Sepuh )
"Untuk menjadi manusia, harus waspada, mampu melihat tanda-tanda, dan bahkan mampu melihat sebelum situasi itu terjadi. Artinya, harus membaca situasi dengan cermat sebelum peristiwa itu terjadi agar tidak menyesalinya di kemudian hari". Peribahasa Sunda "Weruh Sadurung Winara" berarti "tahu sebelum diberitahu" atau "mengetahui sesuatu sebelum kejadiannya terjadi". Hal ini menggambarkan kemampuan seseorang untuk memprediksi atau mengantisipasi situasi berdasarkan analisis data, pengalaman, dan kebijaksanaan yang mendalam. Maknanya adalah memiliki kepekaan tajam atau prediksi akurat terhadap risiko dan kejadian masa depan. Konteksnya sering dikaitkan dengan kebijaksanaan (wisdom) seseorang yang mampu mengelola informasi dengan baik. Penerapannya tidak sekadar menebak, tetapi memahami data dan fakta untuk mengambil keputusan yang tepat sebelum masalah benar-benar terjadi.

________________________________________

I. Fajar yang Terbelenggu di Cakrawala Priangan
Syahdan, manakala sang fajar mulai menyingkap tabir kegelapan di ufuk timur Tanah Priangan, ia tidak lagi mendapati nyanyian riang burung-burung yang menyambut embun pagi. Di penghujung abad ke-19 itu, bumi Parahyangan yang permai—konon tempat bersemayamnya para dewa—kini tengah berselimut duka yang amat pekat. Gunung-gunung hijau yang menjulang tinggi laksana benteng alam yang bisu, menjadi saksi bisu atas kepedihan yang merajam hati rakyatnya. Tanah yang semula menjanjikan kesejahteraan kini telah berubah menjadi ladang kolonial pemerasan tenaga yang tak mengenal batas kemanusiaan.
Di bawah perintah Preangerstelsel yang dingin dan kaku, kini wajah peta sosial-budaya, ekonomi, demografi, bahkan peta geopolitik "Tatar Ukur" berubah. Rakyat jelata dipaksa bersahabat dengan perubahan drastis. Dahulu mereka adalah para petani sawah dan ladang, kini urat nadi kehidupan mereka berpautan pada pohon-pohon kopi yang rimbun. Pohon kina buahnya hanya membawa getir bagi tenggorokan mereka sendiri, sebab seluruh permukaan dan saripati bumi itu harus berubah dan dipersembahkan demi memuaskan dahaga kemakmuran Ratu Belanda di seberang lautan. Sawah-sawah yang semestinya menguning oleh padi kini meranggas terlantar, meninggalkan perut-perut lapar di tengah tanah merangas itu, yang konon tanah ini "diciptakan Tuhan saat sedang tersenyum".
Maka tak lama dari itu, tampaklah sebuah pemandangan jalur kereta api yang mulai membelah raga bumi Bandung pada tahun 1884. Ia merayap meliuk laksana di atas sungai keringat dan air mata. Jeritan peluit uap kereta api seperti jeritan lapar rakyat, menderu-deru membawa harta jarahan menuju Pelabuhan Batavia. Modernitas yang dibawa oleh kaum kolonial bukanlah cahaya penerang bagi bangsa yang gelap, melainkan mesin ekstraksi yang haus; setiap putaran rodanya seakan menggilas martabat bangsa yang kian terpuruk.
Di tengah badai krisis sosial-budaya Preangerstelsel disertai krisis kemanusiaan yang menderu itulah, muncul sebuah paradoks. Berdirilah sosok cendekiawan Muslim, para penjaga rohani yang memanggul amanah pemerintah kolonial sebagai Hoofd (Kepala) Penghulu Agama. Mereka adalah kaum intelektual yang berdiri di persimpangan jalan perjuangan yang sulit dan panjang dengan berhadapan dengan kolonialis yang muskil. Di Kota Bandung, sejarah mencatat nama-nama seperti Raden Haji Muhammad Soleh, Raden Haji Muhammad Alwi serta Raden Haji Muhammad Natsir ; nama mereka tertulis dalam buku birokrasi Regerings Almanach pemerintah Kerajaan Belanda.
Betapa bangga rasa hati bagi kaum awam yang polos tatkala melihat para ulamanya ini mengenakan jubah kebesaran yang bersulam benang emas, menerima kehormatan dari tangan penjajah. Apakah mereka telah lalai akan jerit tangis saudara sebangsanya? Ataukah mereka sesungguhnya adalah fajar yang tersembunyi, yang tengah merajut Siyasah/siasat/strategi "catur" di balik tirai birokrasi kolonial, menanti saat yang tepat untuk membalikkan papan permainan dan memerdekakan bangsa dari belenggu yang kian erat membelit? Di sinilah, di dalam diamnya para mufti ini, tersimpan sebuah rahasia besar tentang cinta kepada tanah air yang dibungkus dengan selimut kepatuhan semu kepada pemerintah kolonial.
________________________________________

II. Siasat di Balik Jubah: Manunggalnya Rohani dalam Cengkeraman Birokrasi
Arkian, tatkala kekuasaan kolonial kian mengakar laksana beringin yang mencengkeram bumi Nusantara, tampaklah sebuah pemandangan yang mengusik nalar rasa. Di dalam gedung-gedung birokrasi yang dingin dan kaku, bersemayamlah para putra terbaik bangsa, para ulama pewaris nabi yang menyandang gelar Hoofd Penghulu. Mereka tidak lagi hanya duduk bersimpuh di atas tikar pandan di pojok pesantren, melainkan melangkahkan kaki dengan tegap ke dalam jantung mesin kekuasaan Hindia Belanda.
Adalah Raden Haji Muhammad Soleh dan Raden Haji Muhammad Alwi (beliau putra/mantu dari Imam Masjid Agung Bandung, K.H. Mohammad Rais), dua sosok yang namanya terpampang nyata dalam deretan tinta administrasi Regerings Almanach. Di mata pemerintah kolonial, mereka adalah sekrup-sekrup kecil dalam mesin besar penjajahan; orang-orang yang tampak tunduk pada titah Gubernur Jenderal, mengenakan tanda kehormatan di dada. Namun, siapakah yang sanggup menyelami kedalaman pikiran ulama dengan dalamnya hati pejuang/mujahid dari para mufti ini? Di balik seragam resmi yang rapi dengan bahasa Arab dan Belanda yang fasih, sesungguhnya mereka tengah memainkan peran dalam sebuah panggung sandiwara kolonial, sebuah strategi yang kita sebut sebagai Akulturasi Birokrasi.

Makam KH.Muhammad Alwi (Sukapakir).dok.Sutrama

Inilah kejeniusan ilmu mantik para mufti untuk menggunakan "pedang kolonial" dalam melindungi "leher" saudara sebangsanya. Dengan jemari yang menggenggam pena dan meterai kekuasaan, para ulama ini melakukan "Perlawanan Sunyi" namun sistematis. Manakala mata oligarki yang serakah dengan perusahaan-perusahaan perkebunan mulai melirik tanah-tanah subur milik rakyat untuk dijadikan ladang kopi dan kina, sang Penghulu segera bergerak cepat laksana kilat di tengah malam. Dengan wewenang hukum Islam yang diakui dalam struktur hukum kolonial, para ulama ini mengusulkan dan mengubah status tanah-tanah tersebut menjadi Tanah Wakaf yg notabene dikelola oleh para santri dan masyarakat setempat. Seketika itu pula, lahan tersebut menjadi suci milik rakyat yang dikelola dan dimanfaatkan; haram untuk disentuh oleh tangan-tangan kolonialisme, sebab menyentuh wakaf berarti memancing amuk massa yang tak terkendali. Sejarah kolonial mencatat dengan baik sebab Perang Jawa habis-habisan yang menguras keuangan pemerintah kolonialisme Kerajaan Belanda.
Lebih jauh lagi, para ulama bertindak sebagai "intelijen legal" yang menyusup ke ruang-ruang informasi paling rahasia dalam interupsi kebijakan pemerintah kolonial. Sebelum petugas kolonial menginjakkan kaki di perbatasan desa dengan membawa titah kerja paksa yang zalim, rahasia itu telah lebih dahulu dibocorkan melalui jaringan sel-sel para santri yang tak terjamah oleh telik sandi Belanda. Dengan informasi ini rakyat pun memiliki waktu untuk mengamankan panen dan melindungi para pemudanya dari kerja tanam paksa. Strategi efektif ini menjadikan administrasi kolonial sebagai perisai hukum yang melindungi nyawa dan martabat.
Di sebelah barat Masjid Agung Bandung, yaitu daerah Cibabat-Cimahi, Kiai Haji Muhammad Kurdi atau sang pemikir yang dikenal sebagai Mama Cibabat, merajut perlawanan melalui pedang sastra dalam Uncuing dan Tongeret. Di mata pejabat Belanda yang angkuh, karya ini hanyalah teks tasawuf yang bicara soal ketiadaan duniawi, namun bagi rakyat khususnya para santri, ia adalah instrumen pertahanan psikologis yang kokoh. Lewat perlambangan burung dan kumbang penanda kematian, ia menanamkan benih keyakinan bahwa kekuasaan kolonialisme beserta senapan dan kereta apinya hanyalah kefanaan semata, sementara otoritas tertinggi tetap berada di haribaan Allah SWT. Inilah sebuah pertahanan diri dari dalam bungkusan sastra kalbu, yang meruntuhkan superioritas mental penjajah dan menanamkan kembali harga diri anak bangsa yang sedang tergerus oleh badai zaman kolonial, kelak di pesantren Mama Cibabat inilah benang perjuangan tentara rakyat dan laskar perlawanan terhadap penjajahan oleh bangsa asing terajut dengan baik .
(Bandung, 7 Syawal 1447 H -kangbAgusaja)

(Bersambung : III. Strategi "Buying Times") 


 

Komentar

  1. Inilah sebuah pertahanan diri dari dalam bungkusan sastra kalbu, yang meruntuhkan superioritas mental penjajah dan menanamkan kembali harga diri anak bangsa yang sedang tergerus oleh badai zaman kolonial :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer