Sikap Kebangsaan

 Retropeksi Sikap Kebangsaan: 

Antara Bisma, Drona, dan Sangkuni

 

….."O Kakanda Kresna, janganlah Paduka memalsukan kata-kata yang telah Paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah berjanji bahwa Paduka tidak akan ikut berperang. O Titisan Wisnu yang terhormat, apabila Paduka melanjutkan niat Paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa Paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hamba lah yang harus menanggungnya! Hamba lah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!..." (Epik Mahabharata – Baratayudha, Bab Bismaparwa; Mpu Wyasa)


Mendengar kisah pewayangan babad Baratayudha di radio dua band jaman kiwari , penulis tertarik pada cerita yang dituturkan pedalang kondang tersebut. Pada saat yang sama, mata penulis gelisah membaca banner teks berita di salah satu stasiun televisi yang memuat kabar korupsi, keributan massa, opini pidato kenegaraan dari negara entah berantah, dan berbagai kegaduhan lainnya. Sekilas terlintas pertanyaan: mengapa kisah ini hadir di ruang baca penulis, lalu mengemuka dalam diskusi dengan rekan sejawat? Dari kegelisahan itu timbul dorongan untuk mengurai sebab kisah pewayangan ini ditulis oleh Sang Begawan Wyasa. Dengan pendekatan sejarah les annales, penulis mencoba menggambarkan epik Mahabharata tentang piramida konflik yang terbangun antara Pandawa dan Kurawa yang mengakibatkan perang besar di Kurukshetra, dan menemukan tiga tokoh yang terintegrasi sebagai kunci kisah: Bisma, Drona, dan Sangkuni, di samping para tetua dan saksi lain seperti Rama Widura, Prabu Destarata, dan Prabu Salya.

Seandainya Begawan Wyasa, pengarang kisah Mahabharata, mengilustrasikan Bisma dan Drona sebagai tokoh yang hidup dalam ruang dan situasi yang penuh ironi, maka ironi itu sesungguhnya adalah kiasan yang ingin disampaikan. Dalam koridor Mahaguru, tiga tokoh ini mengabdikan diri kepada negara sebagai bentuk penebusan terhadap masa lalu Dinasti Barata dan latar belakang masing-masing. Epik Baratayudha menghadirkan pesan yang terbungkus rapi dalam naskah sastra kuno, namun tetap rasional bila dibaca dalam konteks kehidupan kebangsaan masa kini. Di Nusantara, kisah ini kita kenal sebagai epos pewayangan.

Dewabrata adalah nama muda Resi Bisma, ksatria dinasti Kuru yang pilih tanding dan menempatkan integritas keilmuan sebagai dasar hidupnya dalam mengabdi kepada Kerajaan Astina. Ketika Astinapura menjadi warisan yang menentukan prosesi kepemimpinan berikutnya, Bisma justru memilih jalan ksatria lajang dan kemudian menjadi resi. Ia menyerahkan hak dan kepercayaan memimpin Astina kepada adik tirinya, daripada harus melepaskan keyakinan dan dharmanya sebagai resi dari kasta ksatria. Dengan segala kerendahan hati, Bisma berikrar mendampingi Hastinapura hingga akhir hayatnya. Sebagian sastrawan menilai pilihan itu sebagai konsekuensi moral dari seseorang yang telah melepas baju ksatria dan menempuh laku resi. Sebagian lain berpendapat, di balik kesungguhan tersebut, kesetiaan Bisma justru termanifestasi dalam dedikasinya pada ilmu pengetahuan dan politik kenegaraan di Astinapura. Tidak ada guru sejati yang sedemikian tangguh di lingkungan Kurawa–Pandawa selain Bisma, seorang negarawan yang mendedikasikan dirinya pada pendidikan bernegara

Berbeda dengan Bisma, Drona adalah tokoh yang sengaja dihadirkan dalam nuansa ambigu. Ambiguitas itu memicu rasa iri di kalangan Pandawa terhadap Kurawa yang tampak terus diistimewakan. Drona, yang lahir dari keluarga brahmana dan bukan dari lingkungan istana, memilih mengabdikan keilmuannya kepada para Kurawa di Hastinapura sebagai guru besar ilmu perang. Di balik pilihan itu tersimpan upaya menebus luka dan kekecewaan masa lalunya. Setelah peristiwa yang mengguncang hidupnya, Drona memasuki fase transendental dan menjelma menjadi resi yang disegani banyak pihak. Ia menguasai kitab-kitab perang tertinggi, lalu menurunkannya menjadi ilmu yang praktis dan membumi: dihormati sahabat, ditakuti lawan. Namun, ambiguitas Drona menjelma menjadi sikap ambivalen terhadap masa lalunya, sehingga ia mendidik Pandawa dan Kurawa dengan cara yang berbeda bak bumi dan langit. Sebagian sastrawan menyebutnya sebagai pengkhianat profesi keresian, karena laku dan keberpihakannya tidak pernah sepenuhnya utuh.

Sangkuni, sebaliknya, lahir dari keluarga istana yang terhormat dan mendapatkan pendidikan politik serta kenegaraan. Ia tampil sebagai tokoh antagonis yang membuka jurang pemisah dalam babad Mahabharata, hingga menjurus pada perpecahan terang-terangan di tubuh negara Hastina antara Pandawa dan Kurawa. Berangkat dari ketidaksetujuan dan kekecewaan masa lalu kepada kakaknya, Gandari—yang dinikahkan dengan Destarata yang buta—serta kebenciannya kepada Pandu yang memilih Kunthi, Sangkuni merancang strategi kekuasaan bagi keturunan Kurawa agar menguasai Hastinapura selamanya. Ketika Pandu wafat dan tampuk kekuasaan beralih kepada Destarata sebagai wali raja, Sangkuni mengambil posisi sebagai perdana menteri Hastina. Dari sana ia membangun strategi suksesi yang inkonstitusional, dengan tujuan akhir menjadikan dirinya begawan yang kelak dikenang setara Abiyasa, sang kakek Dinasti Barata, dan Bisma yang dihormati seluruh dinasti Kuru. 

Pertanyaannya, mengapa ketiga tokoh ini begitu penting dalam ilustrasi Wyasa? Untuk menjawabnya, penulis mencoba mendekonstruksi penulisan naskah Mahabharata melalui pendekatan les annales, demi memahami konteks sosial-politik yang melatarbelakangi lahirnya kisah ini. Bisma memilih jalur kasih sayang dalam mendidik Pandawa, sedangkan Drona mengasah mereka dengan disiplin ilmu yang keras. Kepada Kurawa, Bisma justru lebih menekankan pendidikan politik negara, sementara Drona cenderung memanjakan mereka. Bisma memahami bahwa pendidikan yang dilandasi kasih sayang akan membentuk Pandawa menjadi lebih bijaksana dalam menerima kekerasan disiplin Resi Drona. Pada saat yang sama, Sangkuni secara sistematis membangun jurang pemisah dan menyiapkan pengganti bagi kakak iparnya, “raja yang buta”, demi mengukuhkan kekuasaan Kurawa. 

Sikap ambigu Resi Drona yang mendidik Pandawa dengan keras muncul karena Kurawa sudah terlebih dahulu dimanjakan oleh politik Sangkuni, yang merusak sistem kekerabatan keluarga Barata. Dari tangan Drona, Bima ditempa menjadi benteng tangguh Pandawa; ia tidak akan menjadi ksatria segagah dan seberani itu tanpa penempaan logika Resi Drona melalui kisah Bimalodra dan Dewaruci. Bisma menanamkan pada Yudistira makna pengabdian dan kesetiaan dalam ilmu negara. Panah seribu busur Arjuna pun tidak akan pernah menggetarkan medan perang bila ia tidak dipaksa selalu “dinomorduakan” setelah Aswatama, putra Resi Drona, sehingga memicu hasrat Arjuna untuk terus mencari guru sejati dan mengasah dirinya. Tidak akan lahir Srikandi dalam kisah Arjuna bila Bisma sejak awal berpihak kepada Pandawa ketika perang meletus. Bisma menyadari bahwa perang adalah jalan pahit yang harus ditempuh demi menyadarkan Kurawa dan Pandawa, dan ia lebih memilih gugur demi Hastina ketimbang memihak Kurawa. Dua resi inilah yang pada akhirnya memainkan peran penentu, membela negara dengan cara yang tampak berseberangan berdasarkan disiplin ilmu yang mereka hayati. 

Seluruhnya dirangkai dalam kisah ironi di babad Mahabharata. Bukan semata faktor genealogi yang menjadikan mereka figur satir di puncak cerita, melainkan karena Wyasa hendak mengantar pembaca pada makna dedikasi dan integritas. Kekacauan (chaos) yang terjadi adalah buah dari pertentangan internal bangsa Kuru di epik pewayangan Mahabharata. Persoalan itu tidak lagi dapat diselesaikan melalui wacana politik belaka; Bharatayudha menjadi pilihan terakhir Dinasti Kuru untuk menuntaskan konflik yang tak kunjung reda, lahir dari keserakahan, pengkhianatan, dan keangkaramurkaan terhadap rakyat. Bahkan setelah perang usai, kisah epik ini masih menyisakan tugas panjang: membenahi infrastruktur dan tatanan pemerintahan yang porak poranda. 

Bila ketiga tokoh ini harus ada dalam kisah—Bisma, Drona, dan Sangkuni—kehadiran mereka dapat dibaca sebagai ilustrasi bentuk-bentuk dedikasi dan integritas anak bangsa, sekaligus sebagai pertanyaan terbuka. Tiga karakter ini dihidupkan secara klise agar pembaca melihat keterbatasan menyelesaikan persoalan hanya dengan mengandalkan simpul metodologis disiplin keilmuan semata. Astinapura menjadi cermin bahwa negara tidak membutuhkan pemimpin yang ambigu dan ambivalen: pemimpin yang hanya meratap, mengeluh, dan bersembunyi di balik efek kebijakan yang telah mereka putuskan sendiri. Sikap masyarakat pada akhirnya akan mengikuti teladan pemimpinnya. Negara tidak cukup dipimpin oleh mereka yang sibuk mengurus pencitraan “Who is the Boss”, tetapi membutuhkan sosok yang menjunjung kesetiaan dan integritas terhadap profesi yang diemban, serta profesionalisme dalam menyelesaikan persoalan, walau harus berhadapan dengan tembok besar antara kepentingan baik dan buruk yang saling bertubrukan. 

Dalam epik perang ini, Pandawa harus mengangkat senjata melawan guru dan kakek mereka sendiri sebagai konsekuensi sistem yang disepakati sebagai jalan terakhir penyelesaian. Namun, naskah Mahabharata justru menegaskan secara kiasan bahwa perang bukanlah jawaban ideal, karena tatanan sosial sejatinya tidak pernah dirancang untuk memerangi saudara sendiri, sebagaimana tersirat dalam Bhagawad Gita. Inti persoalannya bukan sekadar suksesi kekuasaan yang rentan korup, melainkan keberlangsungan suatu negara untuk menjalankan undang-undangnya secara konsekuen. Ketika guru-guru Astina seperti Bisma terjebak dalam ambivalenisme dan Drona tenggelam dalam ambiguitas, sikap despotik Sangkuni muncul dengan “peluang dadu” sebagai instrumen inkonstitusional, demi memastikan suksesi Kurawa berikutnya—betapa pun “sebrengsek” kualitas kepemimpinannya. 

Sangkuni mengharapkan sikap ambigu dan ambivalen para tetua tetap diwariskan kepada generasi oposan berikutnya. Perang Baratayudha akhirnya meletus karena sistem dan mekanisme bernegara terus-menerus digerogoti “peluang dadu”, disokong korupsi, nepotisme, hegemoni, dan otokrasi, bahkan Oligarki. Demokrasi digeser menjadi propaganda palsu yang disulam rapi. Sangkuni mengilustrasikan kepada Bisma dan Drona konsep suksesi ala Kurawa hingga kedua resi itu terseret dalam pusaran ambiguitas dan ambivalensi. Tidak mengherankan bila Mahabharata ditutup dengan epik perang Baratayudha: perang saudara yang tak lagi terhindarkan, bukan semata sebuah kudeta, melainkan akibat sistem dan mekanisme yang menyimpang dari landasan awal didirikannya Hastinapura, saat kepentingan perlahan namun pasti mencemari segalanya tanpa tedeng aling-aling, segalanya di halalkan. 

Semoga para pemimpin dan wakil rakyat di konoha ini mampu menangkap pesan yang diselipkan di antara kisah Bisma, Drona, dan Sangkuni: bahwa dedikasi dan integritas adalah pilar kebangsaan yang tidak boleh ditawar, sekalipun harus dibayar dengan pergulatan batin, pengorbanan pribadi, dan keberanian menentang arus kekuasaan yang menyimpang. Cepat atau lambat rakyat akan menilai siapa Bisma , Drona dan Sangkuni tanpa harus bicara "siapa  kata  siapa"  yang harus berperang antar saudara sendiri di epik akhir kisah negeri konoha ini.  

Disadur ulang dari catatan  fb:Bagus Sutrama , 21 Januari -  15 Tahun yang lalu. 



Komentar

Postingan Populer